Taat kepada pemimpin

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya :

Fadhilatusy Syaikh rahimahullah ditanya : Apa pendapatmu terhadap orang yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang ketaatan kepada pemimpin maksudnya adalah pemimpin untuk seluruh kaum muslimin (khalifah) ?

Beliau rahimahullah menjawab : Kami memandang bahwa perkataan ini tidak benar. Namun yang benar adalah semua pemimpin (waliyul amr) wajib untuk ditaati. Sampai seorang laki-laki yang berada di tengah-tengah keluarganya wajib ditaati oleh semua anggota keluarganya selama ia tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Bahkan jika ada tiga orang yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar) kemudian salah seorang diantara mereka ada yang menjadi pemimpin, maka wajib bagi mereka untuk menaati pemimpin safar tersebut. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya menaati pemimpin.

Kemudian sudah lama sekali, ketiadaan satu khalifah bagi seluruh kaum muslimin. Sejak berlalunya masa empat Khulafaur Rasyidhin radhiyallahu ‘anhum, kaum muslimin terpecah-pecah. Banu Umayyah memerintah di daerah Syam dan sekitarnya, Abdullah bin Zubair memerintah di daerah Hijaz dan sekitarnya, dan yang lain memerintah di daerah Masyriq dan Yaman, maka kaum muslimin terpecah-pecah. Meskipun demikian, semua ulama’ yang berbicara tentang kewajiban taat kepada pemimpin, mereka berbicara tentang kewajiban taat kepada pemimpin di masa mereka, bersama realita keadaan kaum muslimin yang terpecah-pecah. Setiap daerah atau yang semisalnya memiliki seorang pemimpin sendiri-sendiri.

Berdasarkan pendapat yang rusak dan bathil ini, maknanya adalah bahwa saat ini tidak ada lagi keberadaan pemimpin bagi kaum muslimin. Maka kaum muslimin sekarang hidup dalam masa Jahiliyah, dimana tidak ada seorang pemimpin, rakyat, penguasa dan orang yang dikuasai. Kemudian kita katakan kepada mereka, jika kalian benar dengan klaim kalian, maka datangkan kepada kami seorang pemimpin yang memimpin seluruh kaum muslimin (khalifah), niscaya mereka tidak mampu, kecuali setelah munculnya Imam Mahdi. Maka perkara ini dikembalikan kepada Allah azza wa jalla.

(Majmuu’  Fataawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, jilid 25, hal.273-274)

2 comments

  1. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Subhanallah, Syukron jazakallah khoiron katsiron, banyak ilmu yang saya dapatkan disini, khususnya yang aku baca saat ini tentang pemimpin, salam ukhuwah wahai sauadaraku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s