Antara mencium Al Qur’an dan Hajar Aswad

Seorang muslim harus mencintai Al Qur’an, membaca, mentadabburi dan berusaha mengamalkan isi kandungan Al Qur’an. Namun ada salah satu masalah yang terkait dengan Al Qur’an, yaitu tentang hukum mencium mushaf Al Qur’an. Karena ada diantara kaum muslimin yang melakukan perbuatan tersebut. Mereka mencium mushaf Al Qur’an setelah selesai membacanya. Bagaimanakah sebenarnya hukum mencium mushaf Al Qur’an ? Jika terlarang, mengapa kita boleh mencium Hajar Aswad ? Insya Allah Anda dapat menemukan jawaban dari masalah tersebut pada fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berikut ini.

السؤال: تقبيل القران الكريم أيهما أفضل هل الأفضل تقبيل القران الكريم أم الحجر الأسود مع العلم بأن الحجر لا ينفع ولا يضر والقران ينفع ويضر وأنا أجد راحة نفسية في تقبيل القران الكريم فهو كلام الله تعالى علماً بأن القران في زمن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يكن مجموعا في مصحف واحد بل كان موزعاً , فماذا تقولون في هذا؟

Pertanyaan :
Manakah yang lebih utama, antara mencium Al Qur’an dan mencium Hajar Aswad ? Padahal sudah diketahui bahwa Hajar Aswad tidak dapat memberi manfaat dan menimpakan madharat, sedangkan Al Qur’an dapat memberi manfaat dan menimpakan madharat. Dan saya mendapatkan ketenangan jiwa saat mencium Al Qur’an, ia Kalamullah. Demikian juga, sudah diketahui bahwa pada zaman Rasul shallallahu’alaihi wa sallam, Al Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf namun keadaanya masih terpencar-pencar. Apa pendapatmu dalam masalah ini ?

الجواب
الشيخ: أقول في هذا إن تقبيل المصحف بدعة ليس بسنة والفاعل لذلك إلي الإثم اقرب منه إلي السلامة فضلا عن الأجر فمقبل المصحف لا أجر له

Jawaban :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata :
Aku katakan bahwa mencium mushaf Al Qur’an adalah bid’ah, bukan sunnah. Orang yang melakukannya lebih dekat kepada dosa dari pada selamat darinya, lebih lagi mendapat pahala. Maka orang yang mencium mushaf tidak ada pahala baginya.

لكن هل عليه إثم أو لا نقول أما نيته تعظيم كلام الله فلاشك أنه مأجور عليه لكن التقبيل بدعة لم يكن في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام ولم يكن في عهد الصحابة رضى الله عنهم

Namun, dia berdosa atau tidak ? Kita katakan bahwa untuk niatnya yaitu mengagungkan Kalamullah, tidak diragukan lagi dia mendapatkan pahala. Akan tetapi perbuatan mencium mushaf adalah bid’ah yang tidak pernah ada di zaman Rasul shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

وأما قول السائل انه لم يجمع في مصحف فنعم لكنه موجود مكتوباً في اللخاف وعسب النخل وغيرها ولم يرد أن الرسول كان يقبل ما كتبت فيه الآية ولا أن الصحابة يفعلون ذلك في عهده ولا فعلوه بعد جمع القران أيضا فدل ذلك على أنه من البدع

Sedangkan perkataan penanya bahwa Al Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf, memang benar, akan tetapi sudah tertulis di batu, pelepah kurma dan yang lainnya. Meskipun demikian, tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasul mencium ayat yang tertulis benda-benda tersebut. Demikian juga para sahabat radhiyallahu ‘anhum di zaman Nabi tidak melakukan perbuatan tersebut, bahkan setelah Al Qur’an dikumpulkan jadi satu, mereka tidak melakukan perbuatan mencium Al Qur’an. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk bid’ah.

حتى لو استراحت نفسك إلى تقبيله فإن ذلك لا يعني أنه مشروع وسنة ولو رجعنا إلى أذواق الناس وارتياحهم في مشروعية العبادة لكان الدين أوزاعاً وفرقاً ولكن المرجع في ذلك إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم

Bahkan seandainya jiwamu menjadi tenang saat mencium Al Qur’an, hal itu tidaklah menunjukkan bahwa mencium Al Qur’an merupakan perbuatan yang disyariatkan dan sunnah. Seandainya pensyariatan terhadap suatu ibadah kita kembalikan kepada perasaan manusia maka agama ini akan kacau. Akan tetapi yang jadi rujukan dan dasar dalam masalah ini adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu’alaihi wa sallam.

أما المقارنة بينه وبين الحجر الأسود فهذا المقارنة بين سنة وبدعة فالحجر الأسود قد ثبت عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم أنه كان يقبله في طوافه وثبت عن أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضى الله عنه أنه قال حين قبل الحجر (والله أني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك(

Sedangkan membandingkan perbuatan mencium Al Qur’an dengan mencium Hajar Aswad berarti membandingkan antara sunnah dan bid’ah. Tentang Hajar Aswad, telah ada riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa belaiu menciumnya ketika thawaf. Demikian juga ada riwayat dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata saat mencium Hajar Aswad :
“Demi Allah, Aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberi madharat dan manfaat. Seandinya aku tidak melihat Rasul shallallahu’alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

إذاً فتقبيلنا للحجر الأسود ليس لأنه ينفعنا الحجر أو يضرنا ولكن اتباعاً للسنة سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ولو قبل النبي صلى الله عليه وسلم الحجر وجميع الأركان لفعلنا لكنه لم يقبل إلا الحجر ولهذا لا يوجد شيء في الدنيا يشرع تقبيله إلا الحجر الأسود فقط كما جاء ذلك في الطواف عن النبي صلى الله عليه وسلم

Jadi perbuatan kita mencium Hajar Aswad bukan karena dia dapat member manfaat kepada kita atau menimpakan madharat kepada kita. Akan tetapi karena kita berittiba’ (mengikuti ) sunnah Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Seandainya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mencium Hajar Aswad dan semua rukun yang ada di ka’bah, niscaya kita juga akan melakukannya, akan tetapi beliau hanya mencium satu rukun saja yaitu Hajar Aswad. Oleh karena itu tidak ada sesuatupun di dunia ini yang diyariatkan untuk dicium kecuali Hajar Aswad saja. Sebagaimana telah ada perbuatan tersebut dalam thawaf Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

وأما قوله إن الحجر لا يضر ولا ينفع والقرآن يضر وينفع فهذا غلط أيضاً نفسه نفس الحروف أو نفس المصحف الذي كتبت به الحروف لا يضره ولا ينفع الذي يضر وينفع هو العمل بالقران تصديقاً للأخبار وامتثالاً للأوامر واجتنابنا للنواهي.

Sedangkan perkataan penanya bahwa Hajar Aswad tidak dapat menimpakan madharat dan memberi manfaat, sedangkan Al Qur’an dapat menimpakan madharat dan memberi manfaat adalah perkataan yang salah. Huruf Al Qur’an atau mushaf yang didalamnya tertulis huruf Al Qur’an sendiri tidak dapat menimpakan madharat dan memberi manfaat. Yang memberi madharat dan manfaat adalah beramal dengan isi kandungan Al Qur’an, membenarkan beritanya serta melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Al Qur’an.

كذلك الحجر هو نفسه لا ينفع ولا يضر لكن تقبيلنا إياه عبادة يحصل لنا به ثواب وهذا انتفاع.

Demikian pula Hajar Aswad itu sendiri, tidak mampu memberi manfaat dan menimpakan madharat, namun menciumnya merupakan ibadah yang dapat menghasilkan pahala. Inilah yang bermanfaat.

2 comments

  1. Fatwa yang memang perlu disebarluaskan, karena tidak sedikit yang melakukannya. Adakalanya kita tertipu dengan perasaan tentram dan tenang yang dibisikan syaitan tentang perkara tersebut, seperti ungkapan teman ana dulu, yang mengatakan hatinya tenang setelah kirim bacaan Fatihah kepada orang-orang shaleh yang sudah meninggal. Yang intinya kita telah tertipu dengan perbuatan bid’ah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s