Menutup ketaatan dengan istighfar

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafidzahumallah berkata :

Banyak kita dapati di dalam Al Qur’an tentang perintah untuk beristighfar, motivasi serta dorongan untuk beristighfar , demikian pula penjelasan dari manfaat dan buah istighfar. Terlebih lagi setelah selesai melakukan ketaatan dan menyempurnakan suatu ibadah. Diantara petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam setelah beliau menyelesaikan satu amal shalih adalah dengan istighfar. Sebagaimana ada dalam hadits riwayat Imam Muslim :

أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثاً

“ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai melaksanakan shalat (wajib) beliau beristighfar sebanyak 3 kali.” [1]

Dan terdapat dalil yang menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan shalat malam diakhiri dengan istighfar. Allah ta’ala berfirman :

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“ Dan orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur.” [2]

Allah ta’ala juga berfirman :

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“ Dan di waktu sahur mereka memohon ampun (beristighfar).” [3]

Dalam ayat di atas Allah ta’ala menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh serta benar-benar beribadah kepada Allah, Namun demikian mereka memandang bahwa diri mereka masih kurang dalam menjalankan ketaatan. Oleh karena itu mereka beristighfar kepada Allah.

Allah ta’ala menutup surat Al Muzammil yaitu surat yang menerangkan ibadah qiyamul lail dengan firman-Nya :

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“ Dan mohon ampunlah kalian kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Muzammil : 20)

Demikian juga disyariatkan bagi orang yang berwudhu ketika menyelesaikan wudhunya untuk menutup wudhunya dengan taubat. Karena sebaik-baik penutup suatu amal adalah dengan taubat dan istighfar.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“ Barangsiapa yang berwudhu kemudian membaguskan wudhunya kemudian berdo’a Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.”  Niscaya dibukakan baginya delapan pintu surga dan dia oleh masuk dari pintu mana yang dia suka.” [4]

Allah ta’ala berfirman di dalam ayat yang menjelasakan tentang ibadah haji :

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Kemudian berangkatlah kalian dari tempat berangkatnya orang-orang banyak (dari ‘Arafah) dan mohonlah ampunlah kalian kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [5]

Maksud berangkat atau bertolak dalam ayat di atas adalah menuju Mina pada tanggal 10 Dzulhijah yaitu ketika semua jama’ah haji sudah menyempurnakan dan menyelesaikan semua rangkaian ibadah haji mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah di dalam kitab tafsirnya ketika mentafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa hikmah dari hal itu adalah supaya dapat menutup kekurangan seorang hamba, karena mereka pasti melakukan kesalahan atau kekurangan.

فالاستغفار للخلل الواقع من العبد في أداء عبادته وتقصيره فيها، وذِكْرُ اللهِ شُكْرُ اللهِ على إنعامه عليه بالتوفيق لهذه العبادة العظيمة والمنَّة الجسيمة، وهكذا ينبغي للعبد كلَّما فرغ من عبادة أن يستغفرَ الله عن التقصير، ويشكره على التوفيق، لا كمَن يرى أنَّه قد أكملَ العبادةَ ومنَّ بها على ربِّه، وجعلت له محلاًّ ومنزلةً رفيعة، فهذا حقيق بالمقت ورد العمل كما أنَّ الأول حقيق بالقبول والتوفيق لأعمال أُخر

“ Istighfar bermanfaat untuk menutup kesalahan dan kekurangan yang dilakukan oleh seorang hamba saat mereka melaksanakan ibadah. Dan hendaknya dia berdzikir kepada Allah serta bersyukur kepada-Nya atas curahan nukmat-Nya  serta taufiq-Nya sehingga mampu menjalankan ibadah yang agung ini (ibadah haji). Demikianlah yang selayaknya dilakukan oleh seorang hamba setelah menyelesaikan suatu ibadah, yaitu beristighfar kepada Allah atas segala kekurangannya dan bersyukur atas taufiq-Nya. Tidak sebagaimana orang yang memandang bahwa dirinya telah menyempurnakan suatu ibadah dan dia merasa telah memberikan sesuatu kepada Rabb-nya, dia merasa bahwa ibadahnya tersebut memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Rabb-nya. Maka ini merupakan indikasi yang menunjukkan  bahwa ibadah orang tersebut tertolak. Berbeda dengan keadaan hamba yang pertama, perbuatannya merupakan indikasi yang menunjukkan bahwa amalannya diterima dan dia mendapatkan taufiq untuk menjalankan kebaikan.”

Dan diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menutup majlis beliau dengan istighfar. Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Abu Barzah Al Aslamiy radhiyallahu ‘anhu :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بأخرة إذا أراد أن يقوم من المجلس: سبحانك اللهمَّ وبحمدك، أشهد أن لا إله إلاَّ أنت، أستغفرك وأتوب إليك

“ Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata diakhir majlisnya apabila beliau hendak berdiri dari suatu majlis : Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” [6]

Dan Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

مَن جلس في مجلس فكثر فيه لغَطُه، فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك: سبحانك اللَّهمَّ ربَّنا وبحمدك، أشهد أن لا إله إلاَّ أنت، أستغفرك وأتوب إليك، إلاَّ غفر له ما كان في مجلسه ذلك

“Barang siapa yang duduk di sebuah majelis lalu dia banyak berbuat kekeliruan di dalamnya, akan tetapi sebelum berdiri dia membaca: (Maha Suci Engkau wahai Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak di sembah melainkan Engkau, aku meminta ampun serta bertaubat kepada-Mu), melainkan diampuni dosa yang dia perbuat dalam majelisnya itu.” [7]

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup kehidupannya yang telah dipenuhi dengan berbagai ibadah dan ketaatan dengan istighfar. Di dalam shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersandar didadaku sebelum beliau wafat, beliau berdo’a :

اللَّهمَّ اغفر لي وارحَمني وأَلحِقنِي بالرَّفيق الأعلى

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi.” [8]

Hal ini beliau lakukan di akhir kehidupannya bersama dengan itu beliau adalah orang yang selalu beristighfar kepada Allah selama masa hidup beliau yang mulia.

Istighfar merupakan kebiasaan para Salafush Shalih. Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

كان السلف يرون : أن من مات عقب عمل صالح ؛ كصيام رمضان أو عقيب حج أو عمرة يرجى له أن يدخل الجنة ، وكانوا مع اجتهادهم في الصحة في الأعمال الصالحة يجددون التوبة والإستغفار عند الموت ويختمون أعمالهم بالإستغفار وكلمة التوحيد ؛ لما احتضر العلاء بن زياد بكى فقيل له : ما يبكيك ؟ قال : كنت والله أحبُّ أن أستقبل الموت بتوبة قالوا : فافعل رحمك الله فدعا بطهور فتطهر ثم دعا بثوب جديد فلبسه ثم استقبل القبلة فأومأ برأسه مرتين أونحو ذلك ثم اضطجع و مات ، ولما احتضر عامر بن عبد الله بكى وقال: لمثل هذا المصرع فليعمل العاملون : اللهم إني أستغفرك من تقصيري و تفريطي و أتوب إليك من جميع ذنوبي لا إله إلا الله ثم لم يزل يرددها حتى مات رحمه الله ، وقال عمرو بن العاص رضي الله عنه عند موته : اللهم أمرتنا فعصينا و نهيتنا فركبنا و لا يسعنا إلا عفوك لا إله إلا الله ثم رددها حتى مات

Para Salafush Shalih memandang bahwa orang yang meninggal dunia selepas selesai melakukan amalan shalih seperti puasa Ramadhan, haji atau umrah diharapkan dia akan masuk surga. Mereka adalah orang-orang yang yang bersungguh-sungguh untuk meluruskan dan membenarkan amal shalih, memperbaharui taubat, serta beristighfar ketika menghadapi kematian. Maka meraka mengakhiri amal shalih dengan beristighfar dan mengucapkan kalimat tauhid.

Saat menjelang wafat, Al ‘Alaa bin Ziyad menangis dan ia ditanya, “Apa yang membuat Anda menangis?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku ingin menyambut maut dengan taubat.” Orang-orang berkata, “Lakukanlah, semoga Alloh memberi rahmat kepadamu. “Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.

Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, “Pada saat kematian seperti ini hendaknya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal shalih. Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas segala kekuranganku dan aku bertaubat kepada-Mu dari semua dosa-dosaku. Laa ilaaha illaLlaah.” Begitulah yang ia ucapkan rahimahullah terus menerus hingga ia meninggal dunia.

Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu saat menjelang wafat, belaiu berkata : “ Ya Allah, Engkau memerintahkan kepada kami namun kami mendurhakai perintah-Mu dan Engkau melarang kami namun kami malah menerjang larangan-Mu. Tidak ada yang membuat kami cukup melainkan maaf-Mu, Laa ilaaha illallah. Beliau  berulang-ulang mengucapkan kalimat tauhid ini hingga beliau wafat. [9]

Buah dan barakah istighfar bagi orang yang melakukannya sangat banyak sekali dan tidak terhitung, baik untuk menyempurnakan amal shalih , menutupi kekurangan dan mengangkat derajat mereka. Sebagimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

الاستغفار يخرج العبد من الفعل المكروه إلى الفعل المحبوب، من العمل الناقص إلى العمل التامّ، ويرفع العبدُ من المقام الأدنى إلى الأعلى منه والأكمل، فإنَّ العابد لله والعارف بالله في كلِّ يوم، بل في كلِّ ساعة، بل في كلّ لحظة يزداد علماً بالله وبصيرةً في دينه وعبوديته بحيث يجد ذلك في طعامه وشرابه ونومه ويقظته وقوله وفعله. ويرى تقصيره في حضور قلبه في المقامات العالية وإعطائها حقّها. فهو يحتاج إلى الاستغفار آناء الليل وأطراف النهار، بل هو مضطرٌّ إليه دائماً في الأقوال والأحوال، في الغوائب والمشاهد، لما فيه من المصالح وجلب الخيرات ودفع المضرّات، وطلب الزيادة في القوّة في الأعمال القلبية والبدنيّة اليقينية الإيمانية

Istighfar akan mengeluarkan seorang hamba dari perbuatan yang dibenci menuju perbuatan yang dicintai, dari amal yang kurang menuju amal yang sempurna. Serta mengangkat derajat seorang hamba dari yang rendah ke yang lebih tinggi dan sempurna. Karena sesungguhnya seorang hamba yang hanya beribadah kepada Allah, mengenal Allah dalam setiap hari, bahkan dalam setiap jam, terlebih lagi dalam setiap waktunya, maka akan tambah pula ilmunya tentang Allah, pengetahuannya tentang din dan ibadah kepada-Nya. Hal ini didapati dalam perbuatan makan, minum, tidur, bangun dari tidur, perkataan dan semua perbuatan dia.

Dia melihat kekurangannya dalam menghadirkan hati untuk Allah ta’ala serta menunaikan hak-Nya. Maka dia membutuhkan istighfar sepanjang waktu, baik siang maupun malam. Bahkan dia selalu membutuhkan istighfar dalam setiap perkataan dan perbuatannya, dalam keadaan sendirian atau ketika bersama orang lain. Karena di dalam istighfar ada mashlahat, kebaikan, dapat mencegah keburukan., permintaan untuk menambah kekuatan dalam melakukan amalan hati, amalan badan dan tambahan keyakianan serta keimanan. [10]

Dan sungguh Allah ta’ala telah menyiapkan pahala dan anugerah yang  besar untuk orang-orang yang beristighfar kepada-Nya baik di dunia maupun di akhirat yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitung pahala tersebut.

Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [11]

Allah ta’ala juga berfirman :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah  Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [12]

Allah ta’ala berfirman tantang Nabi Nuh ‘alaihis salam :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (10). Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (11). dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai(12).” [13]

Di dalam sunannya Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Busyr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثير

“Beruntunglah orang yang mendapatkan dalam lembaran (kehidupan)-nya istighfar yang banyak”[14]

Maka hendaknya bagi setiap mukmin untuk selalu memperbanyak istighfar, terlebih lagi sesudah selesai melakukan suatu ibadah yang manfaatnya untuk menutupi kekurangan dan menyempurnakan ibadah seorang hamba. Selain itu seorang hamba akan mendapatkan pahala dan kemuliaan orang-orang yang beristighfar.

Kita meminta kepada Allah jalla wa ‘ala supaya menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sering bertaubat dan beristighfar kepada-Nya. Dan dia menerima taubat kita karena sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta semua sahabat beliau.

[1] Shahih Muslim (591)

[2] Surat Al ‘Imran ayat 17

[3] Surat Adz Dzariyat ayat 18

[4] HR. At Tirmidzi (50)

[5] Surat Al Bakarah ayat 199

[6] Sunan Abu Dawud (4859)

[7] Sunan Abu Dawud (4858) dan sunan At Tirmidzi (3433)

[8] Shahih Al Bukhari (4440)

[9] Lathaaif Al Ma’arif (hal. 362)

[10] Majmu’ Al Fataawa (11/696)

[11] Surat An Nisa’ ayat 110

[12] Surat Al Anfal ayat 33

[13] Surat Nuh ayat 10-12

[14] Sunan Ibnu Majah (3818)

2 comments

  1. afwan apakah dalam setiap selesai ibadah seprti sholat sunnah yang lain-lain itu disyariatkan untk beristighfar? dan apakah sehabis mengerjakan sholat subuh dibolehkan untk beristighfar sebanyak-banyaknya..?

    1. 1. Sebagian ulama’ berpendapat dianjurkan atau disyariatkan untuk beristighfar baik setelah selesai shalat wajib maupun shalat sunnah, berdasarkan keumuman hadits Tsauban radhiyallahu’anhu :
      كان النبي – صلى الله عليه وسلم- إذا انصرف من صلاته، استغفر الله ثلاثاً وقال: (اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام)، رواه مسلم، وغيره
      “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau selesai dari shalatnya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengatakan : Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam tabaarakta dzal-jalaali wal-ikraam (Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Keselamatan) dan darimulah keselamatan, Maha Suci Engkau wahai Sang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” (HR. Muslim)

      dalam hadits diatas disebutkan setiap selesai dari shalatnya bukan setelah selesai shalat wajib maka ini menunjukkan umum. Demikian pula kata shalat dalam hadits diatas adalah mufrad mudhaaf yaitu kata tunggal yang disandarkan ke kata yang lain, ini memberi faedah umum baik shalat wajib maupun shalat sunnah.

      Diantara ulama’ yang berpendapat demikian adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.

      2. Adapun setelah shalat subuh dianjurkan untuk berdzikir selepas shalat wajib dan berdzikir pagi. Jika hendak beristighfar maka bisa melakukannya setelahnya dengan istighfar muthlaq yang tidak ditentukan dengan jumlah tertentu.

      Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s