Sikap yang benar terhadap pelaku maksiat

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

143 ـ  ما الموقف الصَّحيح تُجاه العصاة من المسلمين‏؟‏

Bagaimanakah sikap yang benar terhadap seorang muslim yang berbuat maksiat ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

الموقف الصَّحيح للعصاة من المسلمين نصيحتهم، ننصحهم في ترك المعاصي والتَّوبة إلى الله سبحانه وتعالى، ويكون ذلك بحكمة وطريقة لَبِقَةٍ، من غير تنفير ومن غير تشديد، وإنما يكون بالتَّرغيب بالتَّوبة والتَّرهيب من المعصية، هكذا النَّصيحة‏.‏

Sikap yang benar terhadap pelaku maksiat dari kaum muslimin adalah dengan menasihati mereka. Memberi nasehat kepada mereka supaya meninggalkan perbuatan maksiat dan bertaubat kepada Allah ta’ala. Namun hal tersebut dilakukan dengan hikmah dan cara yang bisa diterima, bukan dengan sikap keras sehingga bisa membuat mereka lari dari menerima nasihat. Hendaknya dengan memberi motivasi untuk bartaubat dan memperingatkan akan bahaya maksiat. Demikianlah cara memberi nasihat.

وتكون النصيحة سرًّا بين النَّاصح والمنصوح، من أجل أن يكون ذلك أدعى على قبوله، أمَّا إذا أشهرت به عند الناس، أو تكلَّمت في عِرضِه وهو غائب، وقلت‏:‏ فلانٌ يعمل كذا، وفلانٌ ما فيه خير، وفلان‏.‏‏.‏‏.‏ هذا يزيد الشَّرَّ شرًّا، وليس هذا من النَّصيحة، هذا من الفضيحة‏.‏

Kemudian hendaknya nasehat tersebut disampaikan secara tersembunyi antara pemberi nasihat dan yang dinasehati, dengan harapan nasehat tersebut bisa diterima. Adapun jika engkau menyampaikan nasihat dengan menampakkannya ditengah-tengah manusia, atau engkau berbicara tentang kehormatannya sedangkan dia dalam keadaan tidak hadir. Engkau katakan : Fulan telah melakukan perbuatan demikian, Fulan tidak ada kebaikan padanya dan Fulan . . . Perbuatan yang demikian ini justru akan menambah kejelekan dengan kejelekan yang lain. Dan ini bukanlah nasihat namun termasuk menyebarkan aib seseorang.

فتعامُلُنا مع العُصاة هي النَّصيحة، وتكون النَّصيحة بحكمة وموعظة حسنة، وبرفق ولين، وتبشيره بالخير إذا تاب، وكذلك تحذيره من العقوبة‏.‏

Maka cara bermuamalah kita dengan pelaku maksiat adalah dengan memberi nasehat. Dan hendaknya nasehat tersebut disampaikan dengan hikmah dan cara yang baik, dengan lemah lembut, memberi berita gembira kepadanya jika dia bertaubat dan memperingatkan akan hukuman pelaku maksiat.

النبيُّ صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏(‏بشِّروا ولا تُنفِّروا، ويسِّروا ولا تُعسِّروا‏)‏ ‏[‏رواه الإمام البخاري في ‏”‏صحيحه‏”‏ ‏(‏7/101‏)‏ من حديث سعيد بن أبي بردة عن أبيه عن جده بلفظ‏:‏ يسرا ولا تعسرا‏.‏‏]‏، ،

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Berilah kabar gembira dan jangan kalian buat orang lari. Mudahkanlah dan jangan kalian persulit,”

(HR. Imam Bukhari dalam shahihnya (7/101) dari hadits Sa’id bin Abu Burdah dari bapaknya kemudian dari kakeknya dengan lafadz : “Mudahkanlah dan jangan kalian (berdua) persulit.”)

والله تعالى يقول‏:‏ ‏{‏ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ‏}‏ ‏[‏النحل‏:‏ 125‏.‏‏]‏

Allah ta’ala berfirman :

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl : 125)

ولما جيء للنبي صلى الله عليه وسلم بشاربٍ للخمر، فأمر بجلده – لأنَّ شارب الخمر يُجلَدُ، فقال بعض الحاضرين‏:‏ لَعَنَهُ الله، ما أكثر ما يُؤتى به‏!‏

Ketika didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang peminum khamr, maka Nabi memerintahkan untuk mencambuknya karena hukuman bagi peminum khamr adalah dicambuk. Lalu berkatalah sebagian orang yang hadir ketika itu : Semoga Allah melaknat dia, betapa sering dia telah melakukan perbuatan meminum khamr !

قال النبيُّ‏:‏ ‏(‏لا تقل، أما علمت أنه يحبُّ الله ورسوله‏؟‏‏)‏ ‏[‏رواه الإمام البخاري في ‏”‏صحيحه‏”‏ ‏(‏8/14‏)‏ بنحوه‏.‏‏]‏، وفي رواية أخرى‏:‏ ‏(‏لا تعينوا عليه الشيطان‏)‏ ‏[‏رواه الإمام البخاري في ‏”‏صحيحه‏”‏ ‏(‏8/14‏)‏‏.‏‏]‏‏.‏

Maka Nabi berkata kepada orang tersebut :

“Janganlah engkau melaknatnya. Tidaklah engkau tahu bahwa dia adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya ?” (HR. Imam Bukhari di shahihnya (8/14)

Dalam riwayat yang lain disebutkan :

“Janganlah engkau membantu syaithan (dengan melaknatnya)” (HR. Imam Bukhari di shahihnya 8/14)

Sumber : المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان

One comment

  1. Kadang kala ada seseorang yang karena telah melakukan banyak perbuatan dosa, ia merasa bahwa Allah tak mungkin mengampuni dosa dosanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s