Perbedaan fatwa antara dua ‘alim, memilih yang mana ?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan kaedah :

14 ـ فاجلبْ لتيسيرٍ بكلِّ ذي شَطَطْ***فليس في الدينِ الحنيفِ من شَطَطْ

Ambillah yang mudah pada masalah yang susah*** Din (agama) yang hanif ini tidak ada yang susah

Adapun sebagian ulama’ membahasakan kaedah ini dengan :

المشقة تجلب التيسير

“Semua kesulitan membawa kepada kemudahan”

Beliau rahimahullah berkata :

ومما ينبني على هذه القاعدة من الفروع: إذا اختلف مفتيان على قولين، هل يأخذ بأيسرهما قولاً أو بأشدهما، أو يخيّر؟

Dan diantara perkara yang merupakan cabang dari kaedah ini adalah : Jika ada perbedaan pendapat diantara dua orang mufti, apakah mengambil pendapat yang paling mudah, paling susah atau boleh memilih ?

يعني إذا استفتى الإنسان عالمين، كلاهما أهل للفتوى، واختلفا، فإن تساويا عنده في العلم والدين

Yaitu jika ada seseorang yang meminta fatwa kepada dua orang ‘alim, keduanya adalah orang yang bertaqwa, sama dalam ilmu dan din, namun keduanya berbeda fatwanya.

فللعلماء في ذلك ثلاثة أقوال: القول الأول: أنه يأخذ بالأشد، لأنه أحوط وأبرأ للذمة،

Maka ada tiga pendapat dikalangan para ulama’ tentang masalah ini.

Pendapat pertama mengatakan : mengambil pendapat yang paling susah karena lebih hati-hati dan terbebas dari tanggungan.

والقول الثاني: أنه يأخذ بالأيسر، لأنه أقرب إلى مقاصد الشريعة، ولأن الأصل براءة الذمة فلا نلزم عباد الله إلا بما نتيقن أن الله ألزمهم به،

Pendapat kedua mengatakan : mengambil pendapat yang lebih mudah karena lebih dekat kepada tujuan dan maksud syariat. Dan hukum asal seseorang itu terbebas dari beban/tanggungan maka kita tidak mewajibkan hamba Allah kecuali jika kita yakin bahwa Allah mewajibkan perkara tersebut.

والقول الثالث: أنه يخيّر، لتعارض العلّتين.

Pendapat ketiga mengatakan : boleh memilih karena kedua pendapat tersebut berbeda/bertentangan.

والأقرب عندي أنه يأخذ بالأيسر، لأنه أقرب إلى روح الشريعة، اللهم إلا أن لا تطمئن النفس إليه فحينئذ يأخذ بالأشد الذي تطمئن نفسه إليه،

Pendapat yang lebih tepat menurutku adalah mengambil pendapat yang lebih mudah karena lebih dekat kepada ruh/tujuan syariat. Kecuali jika hatinya tidak merasa tenang ketika memilih pendapat tersebut, maka hendaknya dia memilih pendapat yang lebih susah yang bisa menenangkan hatinya.

ولهذا قال النبي صلّى الله عليه وسلّم: «البر ما اطمأنت إليه النفس، واطمأن إليه القلب، والإثم ما تردد في الصدر».

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Al Birr (kebaikan) adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan hati. Adapun dosa adalah sesuatu yang membuat hati tidak nyaman.”

وكذلك لو تعارضت النصوص عندك على وجهين: أحدهما أشد والثاني أخف، فخذ بالأخف، لأن الأصل براءة الذمة، واليسر هو روح الدين الإسلامي.

Demikian pula seandainya ada dua nash/dalil yang menurut engkau bertentangan : satunya lebih susah dan yang lainnya mudah/ringan maka ambillah yang paling mudah. Karena hukum asalnya terbebas dari beban dan kemudahan adalah ruh agama islam.

 Sumber : http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18355.shtml

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s