Hukum meneladai perbuatan Nabi yang sifatnya adat

Kasus kedua : Apakah disyariatkan bagi seorang muslim untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam perbuatan beliau yang dikerjakan karena adat ?

Kita katakan : tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam perkara tersebut. Bahkan meneladani beliau dalam perkara ini adalah bid’ah. Akan tetapi terkadang seseorang mendapatkan pahala karena dia belum tahu atau melakukan takwil. Namun pada asalnya bahwa perbuatannya tersebut adalah bid’ah, maksudnya orang yang menjadikan perbuatan ini sebagai bentuk taqarrub dan sunnah maka dia telah berbuat bid’ah. Adapun tentang perbuatan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma  yang melakukan napak tilas terhadap tempat-tempat yang pernah dilalui dan dikunjungi Nabi, mayoritas sahabat menyelisihinya, dan mereka menyalahkan perbuatan Ibnu Umar. Bahkan bapaknya sendiri, Umar menyelisihi perbuatannya. Maka perbuatan sahabat tidak dianggap hujjah jika sahabat yang lain menyelisihinya.

(Sumber : Syarah Kitaab Qawaaid Al Ushuul wal Mawaaqid Al Ushuul, hal. : 137, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syistri hafidzahullah)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s