Tiga Jalan Keselamatan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dimuliakan Allah ta’ala

 Alhamdulillah, pada pagi hari yang penuh dengan keberkahan dan kebaikan ini, sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Dawud]

Marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah ta’ala atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, baik yang tampak maupun tersembunyi.

وَأَسْبَغ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dialah yang telah melimpahkan kepada kalian nikmat-nikmatnya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” [Luqman : 20]

Semua kenikmatan yang kita rasakan sekarang ini datangnya dari Allah ta’ala :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Nikmat apa saja yang ada pada kalian maka datangnya dari Allah.” [An Nahl : 53]

Oleh karena itu seandainya kita mencoba untuk menghitung semua nikmat yang Allah ta’ala berikan niscaya kita tidak akan mampu.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan apabila kalian menghitung nikmat-nikmat Allah niscaya kalian tidak mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat dhalim dan kufur.” [Ibrahim : 34]

Wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Allah ta’ala dan jangan sampai kita menjadi hamba yang kufur terhadap nikmat-nikmat-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kepadaku niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” [Al Baqarah : 152]

Diantara nikmat yang telah kita rasakan adalah nikmat bertemu dengan bulan Ramadhan. Kita dapat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dibulan tersebut. Semoga kita keluar dari bulan Ramadhan dengan membawa banyak pahala serta mendapatkan ampunan dari Allah ta’ala. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي فَقَالَ : بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّانِيَةَ قَالَ : بَعُدَ مَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّالِثَةَ قَالَ : بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ الْكِبَرُ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلاهُ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ

“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata : “Sungguh celaka orang yang menjumpai Ramadhan namun tidak diampuni.” Aku berkata : “Amin.” Ketika aku naik ke tingkat mimbar kedua, Jibril berkata : “Sungguh celaka orang yang disebutkan namamu namun tidak bershalawat kepadamu .” Aku berkata : “Amin.” Kemudian saat aku naik ketingkat yang ketiga, Jibril berkata : “Sungguh celaka orang yang mendapai kedua orangtuanya atau salah satunya saat usia tua namun tidak memasukkanya kedalam surga.” Aku berkata : “Amin,” [HR. Hakim]

Oleh karena itu setelah kita menyelesaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, disyariatkan bagi kita untuk bersyukur dan mengagungkan Allah ta’ala. Disyariatkan bagi kita untuk mengumandangkan takbir. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.[ Al Baqarah: 185]

Dianjurkan bagi kita untuk melantunkan takbir dalam rangka mengagungkan Allah ta’ala ketika kita keluar rumah menuju lapangan untuk menunaikan shalat ‘ied.

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di hari raya ‘idul fithri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” [HR. Ibnu Abi Syaibah]

Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

Nikmat besar lainnya yang sekarang ini kita saksikan dan rasakan adalah nikmat merayakan ‘idul fithri. Idul fithri adalah hari yang telah Allah pilihkan untuk kaum muslimin sebagai hari raya menggantikan hari raya orang-orang Jahiliyah.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا، يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Dari Anas bin Malik, beliau menuturkan : “Rasulullah datang ke Madinah dalam keadaan orang-orang Madinah mempunyai dua hari raya yang mereka bermain-main padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apa yang kalian lakukan dengan dua hari itu?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main padanya waktu kami masih jahiliyyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘idul adha dan ‘idul fithri.” [HR. Abu Dawud]

Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

Setiap manusia pasti menginginkan keselamatan, baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Namun, orang yang menghendaki keselamatan hendaknya dia berusaha dengan sungguh-sungguh serta menempuh jalan yang digariskan. Karena boleh jadi orang menghendaki kebaikan namun tidak mendapatkan apa yang dia kehendaki. Mengapa bisa demikian? karena dia salah jalan. Dia tidak menempuh jalan yang bisa menyampaikannya kepada tujuan.

Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu :

كَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيِرِ لَنْ يُصِيْبَهُ

“Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak mendapatkannya.” [HR. Ad Darimi]

 Salah seorang penyair berkata :

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا … إنَّ السَّفِينَة لَا تجْرِي عَلَى اليَبَسِ

Engkau mengharapkan keselamatan namun tidak menempuh jalan-jalannya

Sesungguhnya perahu tidak akan berlayar diatas daratan

[Bustaanul Waa’idhin, Ibnul jauzi]

 Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

 Untuk mengetahui jalan-jalan keselamtan tersebut, mari kita simak penjelasan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

عن عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ : قُلْتُ : يَارَسُولَ اللهِ ، مَا النَّجَاةُ ؟ قَالَ : امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ.

Dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu : Aku bertanya : Wahai Rasulullah, apakah jalan-jalan keselamatan itu ? Beliau berkata : “jagalah lisanmu, hendaknya rumahmu terasa luas bagimu dan tangisilah dosa-dosamu.” [HR. At Tirmidzi]

 Beberapa pelajaran hadits Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu

Terdapat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari hadits ini, diantaranya :

Pertama : hadits ini menunjukkan akan semangat para sahabat radhiyallahu’anhum untuk mendapatkan kebaikan.

Mereka adalah orang yang terdepan dalam mengamalkan kebaikan dan menjauhkan diri dari segala perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah ta’ala.

Terdapat banyak dalil yang menguatkan hal ini, diantaranya adalah :

Perkataan Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhu :

قلت : يا رسول الله أخبرني بعمل يدخلني الجنة ويباعدني عن النار

“Aku berkata : Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku kedalam surga dan menjauhkanku dari neraka.” [HR. At Tirmidzi]

Demikan juga perkataan Hudzaifah Ibnu Yaman radhiyallahu’anhu :

كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني

“Para sahabat dulu bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jika ia menimpaku.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Kedua : hadits ini menunjukkan bahwa hendaknya seseorang bertanya tentang permasalahan agama kepada para ulama’ bukan kepada sembarang orang.

Sebagaimana yang dipraktekkan oleh Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu, beliau bertanya tentang jalan-jalan keselamatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan bertanyalah kepada para ulama’ jika kalian tidak mengetahuinya.” [An Nahl : 43]

Ketiga : hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat kasih sayang dan berusaha menunjukkan semua kebaikan kepada umatnya.

Allah ta’ala mensifati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” [At Taubah : 128]

Oleh karena itu tidak tersisa satu kebaikanpun yang bisa mendekatkan diri kita ke surga melainkan sudah beliau jelaskan dan tidak ada satu keburukan yang bisa menjerumuskan kita kedalam neraka melainkan sudah beliau peringatkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidaklah tersisa sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan sudah dijelaskan kepada kalian.” [HR. At Thabrani]

Keempat : hadits ini menjelaskan tiga jalan keselamatan seorang muslim.

 Jalan keselamatan yang pertama : امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ (jagalah lisanmu)

Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

 Sesungguhnya semua yang kita ucapkan akan dicatat oleh malaikat pencatat amal dan akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf : 18]

Oleh karena itu hendaknya kita tidaklah berucap melainkan sesuatu yang Allah sukai. Jangan sampai keluar dari mulut kita perkataan yang menyebabkan kemurkaan Allah ta’ala. Akan tetapi kebanyakan dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia berasal dari lisannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

“Mayoritas kesalahan manusia ada pada lisannya.” [HR. At Thabrani]

Bisa jadi seseorang mengucapkan sesuatu yang menurut dia sebagai perkara yang ringan namun merupakan perkara yang besar disisi Allah ta’ala. Dia mengatakan sesuatu yang tidak dia pikirkan akibatnya sehingga menjeruskannya ke dalam neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” [HR. Bukhari dan Muslim]

Diantara ciri seorang muslim adalah jika saudaranya sesama muslim merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” [HR. Bukhari]

Oleh karena itu jika kita tidak mampu untuk berkata yang baik maka hendaknya kita diam. Sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” [HR. Muslim]

Karena sulitnya permasalahan menjaga lisan ini, maka orang yang mampu melakukannya akan mendapatkan keutamaan dan balasan yang sangat besar dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin orang yang dapat menjaga lisannya dengan surga. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَضْمَن لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” [HR. Bukhari]

Inilah jalan keselamatan yang pertama, yaitu امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ (jagalah lisanmu)

Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

 Jalan keselamatan yang kedua adalah وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ (hendaknya rumahmu terasa luas bagimu)

Ada dua penafsiran para ulama’ tentang maksud dari وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ :

Pertama adalah hendaknya engkau jadikan rumahmu sebagai tempat untuk memperbanyak amal ibadah kepada Allah ta’ala. Sehingga akan terasa lapang dan luas bagimu.

Tujuan Allah menciptakan kita di dunia supaya kita hanya beribadah kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz Dzariyat : 55-56]

Menghidupkan ibadah dirumah, terutama ibadah shalat dapat membuka pintu-pintu kebaikan serta menghindarkan diri dari berbagai macam fitnah. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk bagi para suami untuk membangunkan istrinya di malam hari supaya menegakkan shalat.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَزِعًا، يَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ! مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ؟ وَمَـاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ -يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ- لِكَيْ يُصَلِّينَ؟ رُبَّ كَاسِيَةٍ فِـي الدُّنْيَـا عَارِيَةٍ فِي اْلآخِرَةِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang membangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.”[ HR. Bukhari]

Marilah kita hidupkan rumah kita dengan memperbanyak ibadah. Kita hidupkan rumah kita dengan lantunan tilawah Al Qur’an dan berdzikir kepada Allah ta’ala. Jangan sampai kita menjadikan rumah seperti kuburan yang tidak pernah terdengar bacaan Kalamullah disana.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“ Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syaithan lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah “. [HR. At Tirmidzi]

Kemudian makna dari وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ yang kedua adalah hendaknya kita merasa cukup dengan pemberian Allah ta’ala.

Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita (qana’ah) adalah kekayaan yang tidak terkira. Karena hakekat kekayaan bukan karena banyaknya harta, namun kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.[HR. Bukhari dan Muslim]

Orang yang memiliki sifat qana’ah adalah orang yang telah mendapatkan keberuntungan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” [HR. Muslim ]

Semoga Allah anugerahkan kepada kita sifat qana’ah sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang paling bersyukur kepada-Nya. Sebagimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiyallahu’anhu :

كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ ، وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

“Jadilah orang yang wara’ niscaya Engkau menjadi manusia yang paling beribadah dan jadilah orang yang qana’ah nisacaya Engkau menjadi manusia yang paling bersyukur.” [HR. Ibnu Majah]

 Kaum muslimin, jama’ah shalat ‘idul fithri yang dirahmati Allah ta’ala

Jalan keselamatan yang ketiga adalah وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ (tangisilah dosa-dosamu)

Kita sebagai manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Bahkan sering kali kita terjatuh dalam lembah dosa baik di waktu siang maupun malam. Namun manusia yang baik adalah segera bertaubat kepada Allah tatkala terjatuh dalam lembah kemaksiatan

Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berkata :

يَا عِبَادِي, إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ, وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا, فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian pasti melakukan kesalahan baik di waktu malam muapun siang, dan Aku mengampuni semua dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni kalian.” [HR. Muslim]

Meskipun sering terjatuh dalam perbuatan maksiat namun jangan sampai kita berputus asa dari rahmat Allah ta’ala :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar: 53]

Allah menyukai orang yang banyak bertaubat kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menciantai orang yang banyak bertaubat dan orang yang menyucikan diri.” [Al Baqarah : 222]

Orang yang meneteskan air mata karena takut kepada Allah akan terhindar dari siksa api neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَلِجُ النَّار رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَّبَنُ فِي الضَرْعِ

Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” [HR. At Tirmidzi]

Orang yang menangisi dosa-dosanya termasuk kedalam salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Arsy Allah ta’ala.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظلُّهُ

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Salah satunya adalah :

ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga berlinanglah air matanya[HR. Bukhari dan Muslim]

 Inilah tiga jalan keselamatan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Dia berkenan menerima puasa, shalat, zakat, sedekah, tilawah Al-Qur`an, dan semua amal shalih lainnya. Semoga amalan kita tersebut dapat sebagai pembebas diri kita dari panasnya api neraka. Dan semoga Allah ta’ala berikan taufik kepada kita untuk bisa menempuh ketiga jalan keselamatan tersebut. Aamiin

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s